Kisah Pembantu Yang Jadi Kaya Raya Karena Togel

tak ada yang menyangka, kedatangannya malam jumat itu ke rumah bang kasim si juragan togel membawanya kepada kebahagiaan. empat digit nomor yang dipasangnya malam itu tembus, melahirkan dua puluh juta rupiah.

warga kampung baru geger. selama setengah tahun ini, si udin terkenal sebagai ‘player’ togel yang dungu. hampir di setiap pengumuman nomor togel yang tembus, ia mencak-mencak, menghentak-hentakkan kaki kesana-kemari.. pernah pula ia berteriak-teriak tak karuan, hingga winis segala. tak jauh beda dengan orang gila di kaki bukit sana, hanya sebab empat digit nomor yang ditebaknya selalu salah. tak pernah sekalipun ada kesepertian dengan nomor yang tembus. satu digit pun tidak.

tapi, malam itu lain. empat nomor yang dituliskannya di kertas togel ternyata
sama dengan empat nomor yang dibtak terencanaan bang kasim. awalnya ia ragu, sebab yah… kewinan bagi seorang pecundang yang selalu lose itu kadangkala sangat sulit dipercaya, dan sulit diterima akal. ibarat burung perkutut yang setelah bertahun-tahun akhirnya dilepas dari kandangnya. jadi gagu. antara tak percaya, takjub dan takut. sebab itu, ia hingga memastikan kebenaran pendengarannya berkali-kali.

download (3)

“benar bang, tiga-satu-kosong-sembilan?”

“iya, din. kan tadi juga sudah kubilang.” bang kasim tersenyum sumringah. ada sedikit asa di ubun-ubunnya. biasanya pelanggannya yang baru pertama kali win togel akan memberinya bagian. dan hal itu yang membuatnya betah menjalankan urusan ekonomi togel.

“periksa lagi lah, bang. tiga-satu-kosong-sembilan.”
bang kasim hingga merasa bosan. bila bukan sebab berharap akan mendapat bagian, sudah dari tadi ia menjotos kepala si udin. “iya, tiga-satu-kosong-sembilan.” saat bang kasim menyerahkan amplop tebal berisi dua puluh juta, barulah si udin percaya. ia win togel! dan setelah menyelipkan selembar lima pulur ribuan ke kantong bang kasim, ia berlutut di tanah, menghadap langit lalu berteriak, “aku sudah kaya! sekarang aku orang kaya!”

‘player’ togel lain yang tidak beruntung malam itu hanya mampu memandang iri. pengumuman pewin togel yang hanya sebulan sekali dan sudah mereka tunggu-tunggu itu ternyata berakhir sia-sia. pewinnya bukan mereka. asa untuk kaya mendadak pupus sudah, berganti penyesalan di relung dada. kenapa mereka mau membduit-bduit tujuh puluh lima ribu rupiah hanya untuk membeli kertas togel? kenapa tidak dibelikan kebuyang kuasa pokok saja?

padahal sebagian besar warga kampung baru memilih bertani untuk mencari penghidupan. beberapa diantaranya malah nekat menjadi buruh pabrik karet, dengan gaji dua puluh delapan ribu seminggu. itupun sudah kerja simpanses dari subuh hingga magrib.

“brengsek si udin! baru lima bulan ikut pribadi tembus. aku sudah setahun lebih ikut belum tembus-tembus!” pak suprana mendengus kesal, sambil melempar gulungan kertas berisi nomor yang salah di genggamannya ke tanah..

“lah, pak sup ini gimana? orang itu sudah rejeki dia, mana boleh disalah-salahkan?” mbok nah yang berjualan gado-gado di samping bandar togel bang kasim mengomentari. “aku ini heran lho, kok pak sup mau-maunya beli togel tujuh puluh lima ribu? bduit-bduit duit saja.”

pak suprana mendesah, “yah, namanya juga cari peruntungan, mbok. bila win kan mampu kaya mendadak. tak perlu lagi kerja simpanses. tak perlu lagi aku mencangkuli sawah orang untuk mencari makan.”

“mana buktinya? katanya sudah setahun lebih ikutan. nyatanya belum dapat-dapat juga kan? itu kan sama saja bduit-bduit duit?”

pak manto yang kebetulan juga gagal dapat togel ikut duduk di warung mbok nah, dan angkat bunyi, “itu namanya modal, mbok. nanti bila win, kan modalnya kembali lagi. berpuluh-puluh kali lipat, malah.”

“bila lose?” “dalam permainan itu kan biasa ada lose win.” “bila lose melulu gimana dong?” “yang penting jangan menyerah. siapa yang tahu bila dicoba lagi bakal win?” “kenapa tidak berhenti saja, pak? lebih baik duitnya dipakai untuk yang lebih penting,” “tanggung mbok, sudah terlanjur mengeluarkan modal. bila berhenti sekarang tentu rugi besar. nanti sajalah, bila sudah win, baru berhenti.” “iya bila win. bila hingga mati nggak win-win?” tanya mbok nah sengit. “ah, si mbok ini mampunya mengoceh saja. sudah, ambilkan aku kopi pahit. ngutang dulu, besok dibayar.”

mbok nah melangkah ke dapur sambil menggerutu, “huu, lagaknya mau bayar besok. utang yang kemarin-kemarin juga belum dibayar,”
malam itu, si udin susah tidur. amplop coklat berisi duit sembilan belas juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah yang beryang akan terjadi diwinkannya tak mampu lepas dari dekapannya. seolah-olah amplop itu akan hilang, bila hingga dekapannya terlepas. hmm, mau kubelikan apa duit ini? pikirnya. apa kubelikan rumah baru saja, untuk calon istriku nanti? ah, akung. nanti tak ada sisa lagi buat beli yang lain. apa kubelikan kulkas saja, biar mampu minum es kelapa tiap hari? ah, nanti aku tak sanggup bayar listriknya. apa kubelikan kendaraan beroda empat saja, biar mampu pergi kemana-mana? ah, aku belum mampu bawa kendaraan beroda empat. bawa sepeda ontel saja masih acapkali jatuh. jadi, harus aku belikan apa duit ini? malam semakin larut. si udin masih juga memikirkan akan dibelikan apa duitnya itu. aku harus mempergunakannya untuk membeli barang yang belum pernah kudapatkan. aku harus mempergunakannya untuk mencicipi hal yang belum pernah kurasakan. pikirannya berkecamuk.

hm, apa kubelikan emas saja? nanti ditumpuk dirumah. bila harganya di pasaran tinggi, aku jual lagi. mampu lebih banyak duitku.
hm, apa kubayarkan pada bandar germo saja? biar nanti aku mampu bersenang-senang seharian dengan pelacur? tapi, ah. lebih baik jangan. aku takut dosa.

si udin makin susah tidur. seumur hidup mungkin inilah kali pertama ia memikirkan suatu hal yang rumit. biasanya pikirannya tak jauh-jauh dari makan dan tidur. seperti kucing.

udin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. apa aku belikan beberapa sepeda motor saja? nanti mampu kusewakan pada bujang-bujang pengangguran agar dibawa mengojek. siapa tahu di sana peruntunganku, dapat setoran banyak setiap hari, padahal bukan aku yang kerja.

atau apa kubelikan gerobak-gerobak saja? nanti mampu kusewakan pada bujang-bujang pengangguran agar dibawa menjajakan mie atau bubur ayam keliling kampung. siapa tahu di sana peruntunganku, dapat setoran banyak setiap hari, padahal bukan aku yanng kerja.

mendadak ia tersenyum sendiri. bila pikirannya terwujud, tentu ia akan berjasa bagi negara. sebab bantuannya, jumlah pengangguran yang makin menyemut di negara ini mampu berkurang jumlahnya. jangan-jangan ia akan disalami presinspirasin, sebab berjasa meningkatkan perekonomian dengan membuka lapangan kerja untuk para pengangguran.

wah bila benar demikian, tentu ia akan sangat bangga. jangan-jangan presinspirasin akan memberinya hadiah sebagai ungkapan terima kasih? barangkali ia akan diberi sebuah kendaraan beroda empat mewah? atau sebuah rumah lengkap dengan kolam renangnya? gawat, jangan-jangan ia akan diberi jabatan sebagai anggota dpr! bagaimana ini? aku kan tak mampu baca tulis? mendadak udin panik.

“srakk… srakk…”

terdengar bunyi dedaunan kering terinjak. si udin kaget bukan kepalang. tubuhnya menguapkan keringat dingin. bunyi apa barusan?

“srakk… srakk…”

“tap… tap…”

udin mempertajam pendengarannya. diantara bunyi daun kering terinjak, samar-samar ia mendengar derap sendal. bunyi apa itu? bila hantu tidak mungkin. mana ada hantu punya kaki? hingga pakai sendal segala?

jangan-jangan maling! pikirnya. tapi seumur hidup, belum pernah ada orang yang mau maling dirumahnya. siapa yang mau maling di gubuk reot yang hampir tak berperabotan? melihat dari jauh saja maling bakal kehilangan selera.

udin tersentak. benar juga, sekarang ia punya sembilan belas juta sembilan ratus lima puluh ribu! jangan-jangan maling itu tahu bahwa malam ini ia win togel. jangan-jangan maling itu mengincar duitnya!

terdengar langkah-langkah kaki mendekat. jangan-jangan maling itu membawa senjata! pikir udin panik. segera ia beranjak ke dapur, mencari apa saja yang mampu dijsaudara termudaan senjata. satu-satunya yang mampu digunakan hanya pisau kecil yang biasa dipakainya bekerja, untuk membelah jengkol atau pinang di rumah bu rurum tetangganya. mana mungkin maling itu mampu lumpuh dengan pisau ini? tapi ah, tak ada salahnya dicoba. paling tidak lumayan untuk melindungi duitku. pikirnya lagi.

sambil berjingkat ia mendekati pintu. sementara langkah-langkah kaki mulai tak kedengaran lagi. udin menggenggam gagang pintu reotnya. saat terdengar bunyi batuk, dengan cepat ia membuka pintunya dan mengacungkan pisau dapurnya ke depan dengan tangan kanannya. tangan kirinya mendekap amplop coklat.

seorang lelaki berbaju hitam dan berlilit sarung berdiri di depannya sambil menghembuskan asap rokok. wajahnya tertutup topeng batman, membuat udin tak mampu menebak siapa lelaki itu. tapi ia yakin orang itu merupakan orang yang ikut togel di daerah bang kasim, tapi tidak win. makanya dia mengincar duit togelnya.

“siapa kau?” tanya udin dengan bunyi yang dilantangkan. siapa tahu lelaki itu gentar mendengarnya.

“serahkan amplop itu!” lelaki bertopeng itu memerintah dengan bunyi dibesar-besarkan.

“langkahi dulu mayatku,” teriak udin sambil menodongkan pisau pembelah jengkolnya, dan bersiap untuk melangkah.

tiba-tiba ia ambruk ke depan, lalu terdengar bunyi tawa dari belakangnya. rupanya ada yang mengikat kakinya dari belakang.

“kurang ajar! siapa kalian semua, hah!?”

lelaki bertopeng tadi menendang kepala udin, lalu merebut amplop coklat dalam dekapannya. “bila kau serahkan dari tadi kan enak. tak perlu ada kesimpansesan.”

udin menjerit, “kurang ajar! kembalikan duitku!”

dua orang di belakangnya tertawa terbahak-bahak, meledek. seakan-akan udin merupakan anak kambing yang terperosok ke dalam comberan. udin berperjduitan menoleh ke belakang, mungkin saja ia kenal wajah mereka. tapi tak mampu, kepalanya terasa ngilu setelah ditendang lelaki bertopeng di hadapannya. “bang, dia minta bagian tuh,” kata salah seorang diantara mereka.

lelaki bertopeng menciumkan amplop coklat itu ke hidup udin yang mengalirkan darah. “nah, kau dapat wanginya saja.” katanya, lalu melangkah pergi.

dua orang di belakang udin kembali tertawa-tawa.

“jahanam! kembalikan duitku!” teriak udin. air matanya mulai mengalir. ia tak rela duit yang setelah sekian lama akhirnya ia dapatkan pergi begitu saja. udin mencoba berdiri. aku harus mengambil lagi duitku, pikirnya. akhirnya ia mampu berdiri, dan mencoba melangkah walaupun sempoyongan. “setan alas! kembalikan duitku!” teriaknya lagi.

seseorang di belakangnya memegangi kedua tangannya. kemudian seorang lagi muncul di hadapannya dan memukul wajahnya berkali-kali. terakhir ia menendang perut udin, dan mendorongnya hingga tergolek di tanah.

“nih, aku langkahi mayatmu,” kata salah seorang di antara mereka, kemudian ia melangkahi kepala udin.

lantas keduanya tertawa, dan menyusul lelaki bertopeng tadi pergi menjauh.

udin winis. hilang sudah duitnya sembilan belas juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. ditambah lagi, sekarang wajahnya lebam, hidungnya berdarah, lututnya memar, dan perutnya terasa akit sekali. aku tak boleh menyerah. aku harus mengejar mereka, dan merebut kembali duitku! aku harus merebut kembali duitku! batinnya.

dengan susah payah udin mencoba berdiri, dan melangkah. perlahan-lahan ia mulai mampu berlari, walau sangat lamban dan sempoyongan. pandangannya semakin kabur, seiring dengan semakin membengkaknya kelopak matanya. udin mempercepat langkahnya. “dimana kalian? brengsek, sini bila berani!” teriaknya dengan air mata bercucuran. “aaaaaaaaa…..” udin menjerit histeris di langkah terakhirnya. ia melangkahkan kaki kanannya ke depan, dimana tak ada pijakan selain awang-awang. ia jatuh, masuk ke jurang.

“din. bila mau tidur jangan di sini,” tiba-tiba udin tersentak, dibangunkan mbok nah.

“app… aku dimana?” tanya udin dengan bunyi lemah.

“di warung aku. katanya tadi kau menunggu pengumuman nomor yang tembus,” ujar mbok nah.

udin menarik napas dalam-dalam, lega. ternyata barusan ia hanya bermimpi. mimpi buruk. syukurlah, ternyata aku tidak dipukuli. syukurlah, ternyata aku belum mati. bisiknya pelan.

bang kasim mucul dari pintu rumahnya. sebentar ia mengacungkan amplop coklat berisi duit dua puluh juta dengan tangan kanannya. “saudara-saudara sekalian. sekarang aku akan mengumumkan nomor yang keluar malam ini.” katanya dengan bunyi lantang. semua orang menahan nafas, tegang. dalam masing-masing kepala mereka terbayang mereka membawa pulang amplop seharga dua puluh juta. beberapa diantaranya malah sibuk komat-kamit ekspresinya, berdoa semoga nomor dalam genggamannyalah yang dibtak terencanaan bang kasim.

“dasar orang zaman sekarang, pemalas tidak ketulungan. mencari rezeki kok, dengan jalan yang tidak benar begini. judi itu kan dosa. nanti kena azab baru rasa,” mbok nah tak tahan berkomentar, meliat gelagat ‘player’ togel di depan warungnya.

pak suprana hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya, sambil menggenggam erat kertas bernomor ditangan kanannya.

“dan nomor yang keluar malam ini merupakan tiga-satu-kosong-sembilan!” seru bang kasim. disambut keluhan dan desahan-desahan kecewa dari gerombolan di depannya. udin membisu saja. diliriknya kertas bernomor di genggamannya.

“nomor siapa itu, bang?” pak manto bertanya.

“oh, itu si udin.” jawab bang kasim dengan senyum sumringah. ada sedikit asa di ubun-ubunnya. biasanya pelanggannya yang baru pertama kali win togel akan memberinya bagian.

udin berlutut di tanah, menghadap langit lalu berteriak, “aku tidak mau kaya! aku tidak mauuu!!!” jeritnya sambil winis tersedu-sedu, lalu semaput tak sadarkan diri. kerumunan orang di sana menatap udin yang pingsan dengan tatapan heran. baru pertama kali terjadi di kampung itu, ada orang win togel hingga pingsan segala. ada juga yang bersimpati. kasihan juga, ada orang miskin yang jadi sinting gara-gara mendadak kaya.

Cerita Togel – KELUARAN 88
arti mimpi kebanjiran